Rabu, 30 September 2026
Menu

Krismuha: Ketika Perbedaan Menjadi Jembatan Menuju Kemajuan

Redaksi | 19 Agustus 2026 | 14:19 WITA
Bagikan:
Bagikan:
Krismuha: Ketika Perbedaan Menjadi Jembatan Menuju Kemajuan
Adhar Oli’i. [Dok. Ist]

Oleh: Adhar Oli’i

Ada kalanya sebuah gelar akademik bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Ada perjuangan panjang, ada dukungan, ada air mata, dan ada nilai kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada sekadar selembar ijazah.

Hari ini, Universitas Muhammadiyah Luwuk patut berbangga. Dua akademisinya berhasil menorehkan prestasi besar dengan meraih gelar doktor.

Dr. Desriani Nggolaon, S.Pd., M.Pd. berhasil meraih gelar doktor di Universitas Muhammadiyah Malang, sementara Dr. Hendra Jultrisno Rusman, S.Si., M.Si. berhasil meraih gelar doktor di Universitas Hasanuddin Makassar.

Keduanya merupakan bagian dari keluarga besar Universitas Muhammadiyah Luwuk. Keduanya juga adalah Krismuha—Kristen Muhammadiyah, sebuah kenyataan yang bagi saya menghadirkan cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar keberhasilan akademik.

Ini adalah cerita tentang toleransi, persaudaraan, kesetaraan, dan bagaimana perbedaan keyakinan tidak harus menjadi tembok dalam membangun kemajuan.

Krismuha dan Wajah Muhammadiyah yang Inklusif Istilah Krismuha (Kristen Muhammadiyah) mungkin terdengar sederhana.

Namun, di balik istilah tersebut ada sebuah realitas yang sangat penting: bahwa ruang pendidikan dan pengabdian dapat menjadi tempat bertemunya manusia dengan latar belakang yang berbeda untuk bekerja dan bertumbuh bersama.

Desriani dan Hendra adalah bagian dari cerita itu. Mereka tidak hanya bekerja di sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berkembang, mendapatkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan, hingga akhirnya mampu mencapai jenjang akademik tertinggi.

Bagi saya, inilah salah satu wajah Muhammadiyah yang patut terus dirawat: Muhammadiyah sebagai gerakan pendidikan yang mampu membangun ruang bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai penghalang untuk berprestasi.

Sebab toleransi yang sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana kita menerima keberadaan orang lain.

Toleransi adalah ketika kita ikut membantu orang lain mencapai mimpinya.

 

Desriani: “Saya Tidak Dibedakan”

 

Bagi Dr. Desriani Nggolaon, perjalanan menuju gelar doktor menjadi pengalaman yang sangat berarti.

Sebagai seorang Krismuha, ia mengakui bahwa dirinya merasa bersyukur dan bangga mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dan berkembang tanpa merasa dibedakan karena keyakinannya.

“ Saya sangat bersyukur dan bangga punya kesempatan hingga ke tahap ini dengan tidak dibedakan. Walaupun saya berbeda keyakinan, saya menjadi bukti bahwa di Universitas Muhammadiyah Luwuk tidak memandang perbedaan sebagai penghalang untuk kita belajar, bertumbuh dan menggapai mimpi.”

Kalimat ini bagi saya bukan sekadar ungkapan kebahagiaan seorang doktor yang baru menyelesaikan studinya.

Ini adalah kesaksian. Kesaksian bahwa pendidikan dapat menjadi ruang yang mempertemukan perbedaan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.

Desriani tetap dengan keyakinannya. Muhammadiyah tetap dengan identitasnya. Namun keduanya dapat berjalan bersama dalam ruang akademik, dalam pengabdian, dan dalam semangat untuk memajukan pendidikan.

Hendra: Dari Keraguan Menjadi Kebanggaan Cerita yang hampir serupa juga dirasakan oleh Dr. Hendra Jultrisno Rusman.

Pada awalnya, “Saya sempat memiliki keraguan ketika menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Luwuk. Ada kekhawatiran bahwa dirinya akan merasa asing atau bahkan terasing karena berada di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dengan latar belakang keyakinan yang berbeda. Namun, kenyataan justru berbicara sebaliknya. Saya merasakan bahwa tidak ada perlakuan yang membuat diri saya merasa berbeda. Saya mendapatkan ruang untuk berkontribusi, berkembang, dan melanjutkan pendidikan ”

 

Hingga akhirnya, ia mampu meraih gelar doktor.

Bagi Hendra, pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa keberadaannya di Universitas Muhammadiyah Luwuk tidak pernah menjadi penghalang. Justru sebaliknya, kampus memberikan dukungan sehingga ia mampu sampai pada titik yang hari ini menjadi kebanggaan bersama.

Dari rasa ragu, lahirlah keyakinan. Dari kekhawatiran, lahirlah kebanggaan. Dan dari sebuah ruang yang terbuka, lahirlah seorang doktor. Komitmen untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, S.E., M.M., dalam berbagai kesempatan, baik dalam diskusi kecil maupun sambutan pada berbagai kegiatan, sering menyampaikan sebuah pesan yang sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam:

“Jangan Membangun Tembok, Tapi Bangunlah Jembatan”

Bagi saya, kalimat ini sangat tepat menggambarkan kisah dua doktor Krismuha tersebut. Tembok membuat orang terpisah.

 

Jembatan membuat orang terhubung.

Tembok menghalangi perjalanan.

Jembatan membantu seseorang sampai ke tujuan.

 

Dalam sebuah organisasi, kita tidak boleh menjadi tembok yang menghambat langkah orang lain. Sebaliknya, kita harus menjadi jembatan yang membantu orang lain maju.

Dan itulah yang terlihat dalam perjalanan Desriani dan Hendra.

Universitas Muhammadiyah Luwuk bukan hanya memberikan mereka tempat untuk bekerja, tetapi juga memberikan ruang untuk bermimpi dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut.

 

Krismuha: Bukti Bahwa Kolaborasi Melampaui Perbedaan

Kisah Desriani dan Hendra juga menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Perbedaan keyakinan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar.

Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi seseorang dalam berkarier.

Dan perbedaan tidak seharusnya menjadi tembok dalam membangun kolaborasi.

Justru dengan perbedaan, kita dapat belajar tentang saling menghargai, saling memahami, dan saling menguatkan.

Krismuha menjadi salah satu gambaran bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan dalam semangat pendidikan dan kemajuan.

 

Inilah semangat yang sejalan dengan tagline “Mobilisasi Berkemajuan”.

Mobilisasi bukan hanya menggerakkan manusia secara fisik.Lebih dari itu, mobilisasi adalah menggerakkan potensi, menggerakkan pikiran, menggerakkan kolaborasi, dan menggerakkan siapa pun untuk maju tanpa melihat sekat-sekat perbedaan.

Muhammadiyah Mengajarkan Kita Tentang Jembatan Ada hal yang menurut saya sangat mengharukan dari kisah ini.

Ketika seseorang yang berbeda keyakinan mampu mencapai gelar doktor melalui dukungan dari sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah, maka yang sedang kita lihat bukan hanya keberhasilan individu.

Kita sedang melihat bagaimana nilai kemanusiaan bekerja. Kita sedang melihat bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan. Dan kita sedang melihat bahwa perbedaan tidak harus membuat kita berjauhan.

Desriani dan Hendra mungkin berbeda dalam keyakinan, tetapi mereka memiliki satu kesamaan: keduanya sama-sama diberi kesempatan untuk bertumbuh.

Dan kesempatan itulah yang kemudian mereka bayar dengan kerja keras, pengabdian, dan prestasi.

Dua Krismuha, Dua Doktor, Satu Kebanggaan Hari ini, ketika Dr. Desriani Nggolaon, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Hendra Jultrisno Rusman, S.Si., M.Si. menyandang gelar doktor, kebahagiaan itu bukan hanya milik mereka dan keluarga.

Ini juga menjadi kebanggaan bagi Universitas Muhammadiyah Luwuk.

Lebih dari itu, keberhasilan mereka adalah pesan bagi kita semua bahwa pendidikan seharusnya membuka pintu, bukan membuat sekat.

Bahwa organisasi seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat seseorang merasa terasing.

Dan bahwa perbedaan seharusnya menjadi kekuatan untuk berkolaborasi, bukan alasan untuk saling menjauh.

 

Dua Krismuha.

Dua doktor.

Dua perjalanan yang berbeda.

 

Tetapi bertemu dalam satu rumah akademik bernama Universitas Muhammadiyah Luwuk. Mereka telah membuktikan bahwa ketika tembok tidak dibangun, jembatan akan menemukan jalannya.

Selamat, dua Doktor Krismuha Universitas Muhammadiyah Luwuk.

Teruslah menjadi jembatan bagi kemajuan, karena ilmu tidak mengenal sekat dan mimpi tidak mengenal perbedaan.

Dari Luwuk, untuk Indonesia yang lebih toleran dan berkemajuan.

Dilarang keras Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Redaksi.
Berita Terkait

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.

Login dengan Google
Copyright © 2026 Katabanggai.com