Sosialisasi Program Kemitraan Wallacea III Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai di Desa Bukit Jaya, Kabupaten Banggai
KATABANGGAI.COM — Upaya pelestarian burung Maleo (Macrocephalon maleo) sebagai salah satu satwa endemik Sulawesi yang terancam punah terus diperkuat melalui Program Kemitraan Wallacea III Burung Indonesia dengan tema “Konservasi Satwa Endemik, Perlindungan dan Pemantauan Sarang Berbasis Komunitas Lokal serta Penguatan Kelembagaan Pada Kawasan Konservasi Maleo (Macrocephalon maleo) Terancam Punah di Nesting Ground Desa Bukit Jaya.”
Program ini dilaksanakan oleh tim pelaksana dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai bekerja sama dengan Sa’angu Adventure dan Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari, dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat lokal.
Program konservasi ini berlangsung selama 12 bulan, mulai September 2026 hingga Agustus 2027, dengan pendekatan utama berupa konservasi berbasis masyarakat melalui perlindungan habitat, pemantauan sarang, pengurangan ancaman terhadap kawasan nesting ground, peningkatan kapasitas kelompok lokal, serta penguatan kolaborasi multipihak.
PEMAPARAN PROGRAM BERSAMA BKSDA SULAWESI TENGAH
Sebagai langkah awal pelaksanaan program, Tim Pelaksana Program Kemitraan Wallacea III telah melakukan pemaparan program kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah pada tanggal 8 September 2026 melalui platform Zoom Meeting.
Kegiatan pemaparan ini bertujuan untuk menyampaikan rencana kerja, pendekatan konservasi, serta strategi pelaksanaan program kepada pihak BKSDA sebagai instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan satwa liar.
Melalui kegiatan tersebut, terbangun komunikasi dan koordinasi awal antara tim pelaksana dengan BKSDA Sulawesi Tengah sebagai bagian penting dalam mendukung keberhasilan program konservasi Maleo di Desa Bukit Jaya.
SOSIALISASI PROGRAM KONSERVASI MALEO di DESA BUKIT JAYA.
Sebagai tindak lanjut dari pemaparan program bersama BKSDA Sulawesi Tengah, kegiatan sosialisasi program dilaksanakan pada 18 September 2026 di Desa Bukit Jaya, Kecamatan Toili Jaya, Kabupaten Banggai.
Kegiatan ini menjadi momentum awal untuk memperkenalkan program kepada masyarakat sekaligus membangun komitmen bersama dalam perlindungan kawasan nesting ground Maleo.
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan, yaitu:
• Kepala Resort VIII Bakiriang, Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sulawesi Tengah, Bapak I Nyoman Ardika
• Camat Toili Jaya
• Danramil Kecamatan Toili yang diwakili oleh Babinsa
• Polsek Kecamatan Toili yang diwakili oleh Bhabinkamtibmas
• Pemerintah Desa Bukit Jaya
• Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD);
• Ketua Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari, Bapak Aco
• Anggota Komunitas Jaya Lestari
• Masyarakat desa, petani, dan peternak.
Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya dukungan dan kepedulian bersama terhadap upaya menjaga keberlangsungan populasi Maleo di kawasan nesting ground Desa Bukit Jaya.
KOLABORASI MULTIPIHAK MENJADI KUNCI KEBERHASILAN KONSERVASI MALEO
Acara sosialisasi diawali dengan sambutan dari Ketua Tim Pelaksana Program, Bapak Wahyudin Abd. Karim dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menerima dan mendukung pelaksanaan program ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah setempat yang telah menerima kami dengan baik sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komunitas Jaya Lestari beserta seluruh anggota yang telah membantu dan mendukung proses pelaksanaan kegiatan konservasi Maleo di Desa Bukit Jaya.”
Beliau menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kegiatan lapangan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai penjaga utama kawasan nesting ground.
PEMERINTAH DESA APRESIASI PERAN KOMUNITAS JAYA LESTARI
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pemerintah Desa Bukit Jaya yang diwakili oleh Kaur Umum. Dalam sambutannya, Pemerintah Desa Bukit Jaya menyampaikan apresiasi kepada Tim Program Kemitraan Wallacea III, Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, Burung Indonesia, dan Sa’angu Adventure atas perhatian dan dukungan terhadap konservasi Maleo di wilayah tersebut.
Pemerintah desa juga menyampaikan kebanggaan terhadap keberadaan Komunitas Jaya Lestari yang selama ini telah berperan dalam menjaga keberadaan burung Maleo sehingga Desa Bukit Jaya semakin dikenal sebagai salah satu lokasi penting penelitian dan kegiatan konservasi.
Selain itu, pemerintah desa mengajak seluruh peserta untuk mengikuti materi yang disampaikan oleh tim pelaksana dan BKSDA dengan baik agar dapat meningkatkan pemahaman serta pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan Maleo.
PENGUATAN KESADARAN PERLINDUNGAN HABITAT dan PENCEGAHAN KARHUTLA
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Polsek Kecamatan Toili melalui perwakilan Bhabinkamtibmas.
Dalam penyampaiannya, pihak kepolisian menekankan pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), mengingat kebakaran dapat memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan habitat satwa liar, termasuk kawasan peneluran Maleo.
Pencegahan Karhutla menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi ekosistem agar tetap mendukung proses reproduksi dan keberlangsungan populasi Maleo.

CAMAT TOILI JAYA DORONG PENGUATAN KOLABORASI KONSERVASI
Kegiatan sosialisasi secara resmi dibuka oleh Camat Toili Jaya. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen dalam mendukung keberhasilan program konservasi Maleo di Desa Bukit Jaya.
Kolaborasi antara komunitas Jaya Lestari, masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, serta pemerintah kabupaten menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan nesting ground.
Beberapa langkah yang perlu diperkuat antara lain:
• Perlindungan dan perbaikan habitat Maleo
• Pengembangan tanaman kemiri sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan
• Penguatan aturan konservasi di tingkat desa
• Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan satwa endemik.
DUKUNGAN BKSDA SULAWESI TENGAH TERHADAP KONSERVASI MALEO DESA BUKIT JAYA
Pada sesi penyampaian materi, Bapak I Nyoman Ardika selaku Kepala Resort VIII Bakiriang, Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sulawesi Tengah menyampaikan permohonan maaf karena Kepala BKSDA Sulawesi Tengah belum dapat menghadiri kegiatan tersebut akibat adanya agenda lain yang lebih mendesak.
Dalam paparannya, beliau menjelaskan tugas pokok dan fungsi BKSDA dalam pengelolaan kawasan konservasi serta perlindungan satwa liar.
Menurut beliau, kawasan nesting ground Maleo Desa Bukit Jaya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan dengan nilai konservasi tinggi, termasuk peluang untuk diarahkan sebagai kawasan preservasi maupun kawasan konservasi esensial.
BKSDA Sulawesi Tengah menyampaikan dukungan terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai bersama Burung Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan Maleo di Sulawesi Tengah.
Ancaman Terhadap Habitat dan Populasi Maleo di Desa Bukit Jaya Dalam pemaparan materi utama, Ketua Tim Pelaksana Program, Bapak Wahyudin Abd. Karim, menjelaskan kondisi dan tantangan konservasi Maleo di nesting ground Desa Bukit Jaya.
Kawasan peneluran Maleo menghadapi berbagai tekanan akibat aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu habitat dan keberhasilan reproduksi spesies tersebut.
Beberapa ancaman yang telah teridentifikasi meliputi:
1. Pelepasliaran hewan ternak yang dapat menyebabkan gangguan dan kerusakan pada area peneluran;
2. Keberadaan jalur akses masyarakat menuju kawasan perkebunan yang meningkatkan aktivitas manusia di sekitar lokasi sarang;
3. Aktivitas penambangan pasir yang berpotensi mengubah karakteristik habitat dan kondisi fisik kawasan peneluran;
4. Pengambilan telur Maleo oleh masyarakat yang berdampak terhadap keberhasilan penetasan dan regenerasi populasi.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, terdapat beberapa permasalahan utama yang perlu segera ditangani, yaitu:
1. Belum tersedianya data dan informasi populasi serta kondisi sarang Maleo di kawasan nesting ground;
2. Belum optimalnya tata kelola dan sistem pengamanan kawasan peneluran;
3. Belum maksimalnya kapasitas serta peran masyarakat dalam perlindungan Maleo.
PENDEKATAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT
Program Kemitraan Wallacea III menerapkan pendekatan konservasi berbasis masyarakat dengan menempatkan Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari sebagai aktor utama di tingkat tapak.
Pendekatan ini mengintegrasikan:
• Perlindungan habitat peneluran
• Pemantauan sarang dan keberhasilan reproduksi
• Pengurangan tekanan terhadap kawasan
• Penguatan kapasitas kelembagaan lokal
• Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, lembaga konservasi, dan pemerintah daerah.
Dalam pelaksanaannya, strategi pertama yang dilakukan adalah perlindungan dan pengelolaan habitat peneluran melalui survei serta pemetaan partisipatif.
Kegiatan tersebut mencakup identifikasi:
• Lokasi sarang Maleo;
• Area penyangga;
• Jalur akses masyarakat;
• Lokasi pelepasliaran ternak;
• Titik aktivitas penambangan pasir;
• Kawasan rawan banjir dan erosi.
Hasil pemetaan akan menjadi dasar dalam menentukan kawasan prioritas perlindungan, pemasangan papan informasi, penentuan jalur patroli, serta penyusunan mekanisme pemantauan habitat secara rutin.
PENGUATAN KELEMBAGAAN untuk KEBERLANJUTAN PROGRAM
Keberlanjutan konservasi Maleo Desa Bukit Jaya akan dibangun melalui penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal.
Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari akan mendapatkan penguatan melalui berbagai kegiatan, seperti:
• Pelatihan teknis konservasi Maleo;
• Pengelolaan organisasi kelompok;
• Administrasi kelembagaan;
• Pengumpulan dan pengelolaan data;
• Penyusunan rencana kerja jangka menengah.
Melalui penguatan tersebut, kelompok masyarakat diharapkan mampu menjadi penggerak utama perlindungan Maleo secara mandiri dan berkelanjutan setelah program selesai.
MENUJU MASA DEPAN MALEO yang LEBIH TERLINDUNGI
Melalui Program Kemitraan Wallacea III, diharapkan kawasan nesting ground Maleo Desa Bukit Jaya dapat menjadi kawasan yang terlindungi dari berbagai ancaman terhadap habitat dan reproduksi Maleo.
Dalam jangka panjang, program ini menargetkan terwujudnya pengelolaan kawasan peneluran Maleo yang efektif dan berkelanjutan sehingga populasi Maleo dapat berkembang secara alami serta menunjukkan tren peningkatan.
Konservasi Maleo bukan hanya tentang melindungi satu spesies endemik Sulawesi, tetapi juga tentang membangun kesadaran bersama bahwa keberlangsungan satwa liar sangat bergantung pada hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Melalui kolaborasi multipihak, Desa Bukit Jaya menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan Maleo Sulawesi. ***

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.
Login dengan Google