Selamatkan Maleo Dari Ancaman Kepunahan, DSLNG Libatkan Generasi Kampus
KATABANGGAI.COM – Upaya penyelamatan Burung Maleo membutuhkan dukungan generasi baru yang mampu menghadirkan gagasan, penelitian, dan aksi konservasi berkelanjutan. Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan satwa endemik Sulawesi tersebut.
Relations & Communications Senior Manager PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG), Aji Wihardandi, mengatakan keterlibatan mahasiswa dan akademisi menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang konservasi Burung Maleo.
Hal itu disampaikan Aji saat kegiatan Kampanye dan Sosialisasi Burung Maleo sebagai Warisan Sulawesi untuk Indonesia dan Dunia yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai (UMLB), Selasa (28/7).
Menurut Aji, konservasi tidak dapat hanya mengandalkan satu kelompok atau satu generasi. Diperlukan regenerasi agar upaya perlindungan Burung Maleo tetap berjalan melalui pendidikan, penelitian, dan keterlibatan langsung di lapangan.
“Ke depan, teman-teman di perguruan tinggi inilah yang akan melanjutkan tongkat estafet konservasi Burung Maleo. Karena itu, kesadaran generasi muda menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Burung Maleo merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di Pulau Sulawesi. Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies tersebut masuk kategori terancam punah dengan perkiraan populasi di alam sekitar 4.000 hingga 8.000 ekor.
Aji menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena Maleo memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai spesies payung (umbrella species), perlindungan terhadap habitat Maleo juga berarti menjaga berbagai organisme lain yang hidup dalam ekosistem yang sama.
“Ketika habitat Maleo terjaga, maka ekosistem dan berbagai spesies lain yang hidup di dalamnya juga ikut terlindungi. Jadi konservasi Maleo bukan hanya tentang satu jenis burung, tetapi tentang menjaga keseimbangan lingkungan secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan konservasi Maleo semakin besar karena satwa tersebut memiliki karakteristik reproduksi yang unik dan sangat bergantung pada kondisi habitat alami. Gangguan terhadap kawasan peneluran serta perubahan lingkungan dapat berdampak terhadap keberlangsungan populasinya.
Karena itu, DSLNG terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga konservasi, perguruan tinggi, dan masyarakat, agar upaya pelestarian dapat dilakukan secara bersama-sama.
Aji berharap keterlibatan akademisi dapat menghasilkan lebih banyak penelitian dan inovasi yang mendukung program konservasi Burung Maleo, khususnya di wilayah Kabupaten Banggai.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memperluas pemahaman mahasiswa dan mendorong lahirnya generasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian Burung Maleo sebagai warisan Sulawesi untuk Indonesia dan dunia,” katanya. ***

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.
Login dengan Google