Rabu, 30 September 2026
Menu

Pesan Tegas Rektor Unismuh Luwuk untuk Mahasiswa: Era Digital Bukan Tempat untuk Bekerja Sendiri

Redaksi | 28 Agustus 2026 | 08:24 WITA
Bagikan:
Bagikan:
Pesan Tegas Rektor Unismuh Luwuk untuk Mahasiswa: Era Digital Bukan Tempat untuk Bekerja Sendiri
Penutupan secara resmi KKN-MB Posko Kampus Angkatan XL, Jumat (28/8/2026) [Dok. Katabanggai]

KATABANGGAI — Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Dr. Sutrisno, menekankan pentingnya pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bekal mahasiswa sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Sutrisno dalam acara penutupan KKN Posko Kota Angkatan XL, setelah mahasiswa menyelesaikan rangkaian KKN selama kurang lebih 40 hari, Jumat (28/8/2026).

Sutrisno mengapresiasi pelaksanaan KKN yang berjalan baik. Ia bersyukur seluruh mahasiswa dapat menyelesaikan kegiatan tanpa kendala kesehatan maupun keluhan berarti.

“Alhamdulillah, kita sudah sampai di sini. Teman-teman juga sudah melaksanakan etape (tahapan) KKN dengan baik,” kata Sutrisno.

Menurutnya, setelah menyelesaikan KKN, mahasiswa akan kembali ke kampus untuk melanjutkan proses akademik hingga menyelesaikan tugas akhir atau skripsi.

Ia juga menyebut laporan dari dosen pembimbing lapangan (DPL) tidak menunjukkan adanya persoalan berarti selama pelaksanaan KKN.

Namun, kata Sutrisno, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari selesainya program kerja. Hal yang lebih penting adalah ilmu dan pengalaman yang ditinggalkan mahasiswa bagi masyarakat di lokasi KKN.

“Yang paling penting ialah ilmu yang kalian tinggalkan kepada masyarakat. Ini menjadi bekal kalian,” ujarnya.

Sutrisno menyebut KKN sebagai laboratorium kehidupan bagi mahasiswa. Jika proses pembelajaran di kampus lebih banyak memberikan teori, maka KKN memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan tersebut melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat.

“Kalau di kampus hanya teori, tetapi di KKN kalian mendapatkan soft skill. Sebab, dari sana kalian akan kembali lagi ke tengah masyarakat,” katanya.

Ia menilai ada sejumlah kemampuan penting yang dapat diperoleh mahasiswa selama menjalani KKN, salah satunya kepemimpinan. Hidup dan bekerja dalam satu posko membuat mahasiswa belajar memahami karakter serta pola kepemimpinan masing-masing.

Selain kepemimpinan, mahasiswa juga dituntut mampu berorganisasi dan bekerja sama. Bagi mahasiswa yang sebelumnya tidak aktif dalam organisasi, KKN menjadi kesempatan untuk belajar berkolaborasi dengan orang lain.

“Ketiga, tentunya kerja sama. Ini penting. Akan terlihat kalau ada teman-teman yang tidak bisa bekerja sama atau masih ego,” tutur Sutrisno.

Ia mengingatkan mahasiswa bahwa tantangan kehidupan setelah lulus tidak dapat dihadapi dengan cara bekerja sendiri. Di tengah perkembangan digitalisasi, keberhasilan seseorang juga sangat ditentukan oleh kemampuan membangun koneksi dan jejaring.

“Kehidupan ke depan bukan milik orang yang mau bekerja sendiri. Dunia digitalisasi bukan milik dia sendiri, tetapi milik koneksi orang yang memiliki jejaring,” ujarnya.

Menurut Sutrisno, semakin luas jaringan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula peluang untuk berkolaborasi. Dari kolaborasi tersebut, kata dia, dapat lahir berbagai gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia pun meminta mahasiswa tidak berhenti menjaga hubungan dengan masyarakat maupun sesama peserta KKN meski kegiatan telah berakhir.

Mahasiswa, lanjutnya, harus mampu menjadi agen perubahan dan meninggalkan jejak positif di setiap tempat mereka ditempatkan. Silaturahmi yang terus terjaga dinilai dapat menjadi modal untuk membangun jejaring di masa depan.

“Jangan sampai setelah KKN selesai, kalian tidak meninggalkan jejak. Karena itu, perlu menjaga silaturahmi,” katanya.

Sutrisno juga menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia mampu berkolaborasi. Teknologi, menurutnya, hanya menjadi sarana untuk memperlancar konektivitas, sementara kemauan untuk membangun hubungan dan bekerja bersama tetap berada pada manusia.

“Digitalisasi tidak bisa menjadikan kita untuk berkolaborasi. Teknologi hanya memperlancar konektivitas kita, tetapi semua itu ada pada kita semua,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pengalaman selama KKN dapat menjadi masukan sekaligus bekal bagi mahasiswa ketika kembali ke masyarakat. Bekal tersebut tidak hanya berupa pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan nonteknis yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan profesional.

Ia menekankan tiga hal yang perlu terus dikembangkan mahasiswa, yakni konektivitas, kolaborasi, dan inovasi.

Ketiganya dinilai penting untuk menghadapi tantangan masa depan, termasuk bonus demografi. Sutrisno mendorong mahasiswa menjadi generasi yang mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan terus memperluas jaringan dan meningkatkan kapasitas diri.

“Faktor utama itu adalah soft skill. Kita harus memperkuat konektivitas, kolaborasi, dan inovasi sebagai modal ke depan,” katanya.

Di akhir pesannya, Sutrisno mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti belajar. Ia mengutip pesan yang populer dalam tradisi Islam bahwa proses belajar berlangsung sepanjang hayat.

“Belajarlah dari ayunan hingga liang kubur. Maka tetap terus belajar. Ketika kita tidak bertransformasi dengan dunia hari ini, kita akan tertinggal,” ujarnya.

Dengan berakhirnya KKN, mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman akademik, tetapi juga kemampuan memimpin, bekerja sama, membangun jejaring, dan menciptakan inovasi yang dapat diterapkan ketika kembali menjadi bagian dari masyarakat. ***

Dilarang keras Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Redaksi.
Berita Terkait

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.

Login dengan Google
Copyright © 2026 Katabanggai.com