Rabu, 30 September 2026
Menu

Satu Pesisir, Banyak Tangan yang Menjaga

Redaksi | 12 Agustus 2026 | 09:22 WITA
Bagikan:
Bagikan:
Satu Pesisir, Banyak Tangan yang Menjaga
Bersama menjaga pesisir Desa Rata., Rabu (12/8/2026) [Dok. Ist]

KATABANGGAI.COM — Komitmen terhadap pelestarian keanekaragaman hayati dan pemulihan ekosistem pesisir di Kabupaten Banggai kembali diperkuat melalui Kampanye Keanekaragaman Hayati (Kehati) JOB Tomori dan Regional 4 yang dilaksanakan di Desa Rata, Kecamatan Toili Barat, Rabu (12/8).

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, kelompok masyarakat, generasi muda, dan masyarakat desa dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Kampanye Kehati ini melibatkan JOB Tomori, Regional 4, Zona 11, Zona 12, Zona 13, dan Zona 14, Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai, Universitas Muhammadiyah Luwuk, kelompok masyarakat, pelajar, serta masyarakat Desa Rata.

Pelestarian mangrove dalam kegiatan tersebut tidak hanya dipandang sebagai agenda konservasi lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga sumber penghidupan masyarakat pesisir. Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis penting sekaligus membuka peluang ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat secara aktif.

 

KOLABORASI MULTIPIHAK MENJADI KUNCI PELESTARIAN.

Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kolaborasi multipihak dalam pengelolaan lingkungan. Menurutnya, pendekatan hexahelix perlu terus dikembangkan dengan mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, media, serta berbagai unsur lainnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Setiap unsur memiliki sumber daya, pengetahuan, dan kapasitas yang berbeda sehingga sinergi antarpihak menjadi fondasi penting dalam menghasilkan program pelestarian yang berkelanjutan.

Pesan serupa disampaikan Camat Toili Barat yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberadaan mangrove. Menurutnya, keberadaan ekosistem mangrove memberikan manfaat besar, baik dalam menjaga keseimbangan lingkungan maupun mendukung kehidupan masyarakat di sekitar kawasan pesisir.

Dari pihak Regional 4, Tri Sunu menjelaskan bahwa Kampanye Kehati merupakan agenda tahunan Regional 4. Kehadiran sejumlah perwakilan Zona 11 dan Zona 12 dalam kegiatan di Desa Rata sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat dan mempelajari secara langsung praktik pengelolaan mangrove yang telah dikembangkan bersama masyarakat.

Sementara itu, Shanti, Environment Section Head yang mewakili manajemen JOB Tomori, menegaskan bahwa mangrove memiliki manfaat ekologis dan sosial-ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Karena itu, menurutnya, keberadaan mangrove harus dijaga secara konsisten melalui program yang tidak hanya berorientasi pada penanaman, tetapi juga mencakup pemeliharaan, pembibitan, peningkatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

 

SINERGI JOB TOMORI dan PEMERINTAH DAERAH.

Komitmen terhadap pemulihan lingkungan juga mendapat apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai. Ahin Yoniko, Analis Tata Ruang DLH Kabupaten Banggai yang mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai, menyampaikan bahwa koordinasi antara JOB Tomori dan DLH telah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Menurut Ahin, JOB Tomori telah sekitar 15 tahun melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam berbagai upaya pemulihan lingkungan. Hubungan yang telah terbangun tersebut menjadi modal penting untuk melanjutkan dan memperluas berbagai program lingkungan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.

Kolaborasi jangka panjang tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program lingkungan membutuhkan kesinambungan. Program tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan seremonial, tetapi perlu dilanjutkan melalui pemeliharaan, monitoring, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pengembangan manfaat ekonomi dari sumber daya lingkungan yang dikelola secara bertanggung jawab.

 

KELOMPOK PEREMPUAN SIKARIMANG JADI PENGGERAK KONSERVASI.

Salah satu kelompok masyarakat yang merasakan langsung manfaat program pelestarian mangrove adalah Kelompok Sikarimanang. Kelompok yang seluruh anggotanya merupakan perempuan tersebut aktif dalam kegiatan pembibitan dan pelestarian mangrove di Desa Rata.

Ketua Kelompok Sikarimanang, Irama atau yang akrab disapa Iyan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada JOB Tomori atas dukungan yang diberikan. Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Luwuk dan Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup yang selama ini turut memberikan pendampingan kepada kelompok.

Iyan menjelaskan bahwa kegiatan pembibitan mangrove memberikan manfaat ganda bagi anggota kelompok. Di satu sisi, kegiatan tersebut berkontribusi terhadap upaya pemulihan dan pelestarian ekosistem pesisir. Di sisi lain, pembibitan mangrove memberikan peluang ekonomi bagi anggota kelompok.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pembibitan mangrove ini. Selain memberikan manfaat secara ekonomi, kami juga bersama-sama menjaga dan melindungi mangrove,” ungkap Iyan.

Ke depan, Kelompok Sikarimanang berharap kegiatan pembibitan dapat terus dikembangkan sehingga kapasitas produksi dan manfaatnya semakin luas. Kelompok tersebut juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai instansi maupun pihak lain yang membutuhkan bibit mangrove untuk mendukung kegiatan konservasi, rehabilitasi, dan pemulihan lingkungan.

Keterlibatan perempuan melalui Kelompok Sikarimanang memperlihatkan bahwa agenda konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat program, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam kegiatan pembibitan, pemeliharaan lingkungan, dan pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

 

GENERASI MUDA dan MASYARAKAT TURUT  TERLIBAT.

Kegiatan Kampanye Kehati juga melibatkan BEM Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, siswa SMA Rata, Kelompok Sikarimanang, serta masyarakat Desa Rata.

Keterlibatan mahasiswa dan pelajar memiliki arti penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi agen perubahan yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya alam di wilayahnya.

Partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penting karena keberhasilan konservasi mangrove pada akhirnya sangat bergantung pada keberadaan masyarakat sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan ekosistem pesisir. Kesadaran, kepemilikan, dan keterlibatan masyarakat menjadi fondasi agar program rehabilitasi dapat memberikan dampak jangka panjang.

 

PENANAMAN MANGROVE dan PERESMIAN TEMPAT PEMBIBITAN.

Setelah seluruh rangkaian sambutan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman mangrove secara simbolis. Penanaman tersebut menjadi representasi komitmen bersama untuk menjaga, memulihkan, dan mempertahankan keberlanjutan ekosistem mangrove di Desa Rata.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peresmian tempat pembibitan mangrove. Peresmian dilakukan secara simbolis oleh Ahin Yoniko selaku Analis Tata Ruang DLH Kabupaten Banggai yang mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai.

Keberadaan tempat pembibitan tersebut diharapkan dapat menjadi pusat penyediaan bibit mangrove sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat. Lebih jauh, fasilitas tersebut dapat mendukung keberlanjutan aktivitas Kelompok Sikarimanang dan memperkuat peran kelompok perempuan dalam pengelolaan lingkungan.

Tempat pembibitan juga memiliki nilai strategis karena ketersediaan bibit menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan program rehabilitasi mangrove. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan pembibitan dapat mendukung kebutuhan penanaman di Desa Rata maupun kawasan lain yang membutuhkan bibit untuk kegiatan konservasi.

 

MEMBANGUN MODEL PELESTARIAN yang BERKELANJUTAN.

Kampanye Kehati JOB Tomori dan Regional 4 di Desa Rata menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak berkelanjutan apabila dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.

Dunia usaha memiliki dukungan sumber daya dan program tanggung jawab sosial serta lingkungan, pemerintah memiliki fungsi regulasi dan kebijakan, perguruan tinggi berperan melalui pengetahuan dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program di tingkat tapak.

Di sisi lain, keterlibatan kelompok perempuan dan generasi muda memperluas dimensi program dari sekadar rehabilitasi lingkungan menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.

Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, Desa Rata memiliki peluang untuk mengembangkan pengelolaan mangrove yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Kampanye Kehati tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga mangrove bukan hanya tentang menanam pohon, melainkan membangun ekosistem sosial yang mampu menjaga pohon tersebut tetap hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan dalam jangka panjang. ***

Dilarang keras Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Redaksi.
Berita Terkait

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.

Login dengan Google
Copyright © 2026 Katabanggai.com