Menu

80 Tahun Merdeka, Tiga Kecamatan Di Bangkep Masih Minum Air Hujan

admin | 23 Juli 2026 | 16:10 WITA
Bagikan:
Bagikan:
80 Tahun Merdeka, Tiga Kecamatan Di Bangkep Masih Minum Air Hujan
Foto : Ilustrasi , Istimewa
Ringkasan Berita

  • Krisis Puluhan Tahun: Warga di wilayah Bulagi bersaudara mengalami krisis air bersih dan terpaksa mengandalkan air hujan atau membeli air karena sumur warga berasa asin.
  • Terkendala Anggaran: Pemkab Bangkep sudah mengusulkan jaringan air bersih dari mata air sejauh 70 km sejak 2018, namun terkendala ketiadaan anggaran.
  • Solusi Tahun 2026: Gubernur Sulawesi Tengah menyatakan penanganan air bersih untuk wilayah tersebut sudah diprogramkan dan mulai dikerjakan pada tahun 2026.

Tanggal 3 November 2025, usia Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) genap 26 tahun.

Kabupaten Bangkep, kini “dinakhodai” H Rusli Moidady, sementara Serfi Kambey, sebagai wakil bupati (Wabup).

Kabupaten dengan Ibu Kota Salakan ini mekar dari induknya (Kabupaten Banggai) pada tanggal 3 November 1999.

Walau usia pemkab Bangkep, sudah berjalan hampir 26 tahun, tetapi beberapa persoalan yang paling mendasar yang sangat dibutuhkan masyarakat belum mampu disiapkan pemkab Bangkep.

Satu diantara kebutuhan primer masyarakat Bangkep adalah soal air bersih.

Sudah berpuluh tahun kecamatan di Bangkep, Bulagi, Bulagi Utara dan Bulagi Selatan mengalami krisis air bersih.

Kendati warga sudah “berteriak” dan media ramai “menguliti” masalah air yang dihadapi kecamatan Bulagi bersaudara itu, hingga kini belum nampak langkah serius dan komprehensif dari pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.

Rauf Basonggo, pensiunan guru yang tinggal di Bulagi 21/9/25 menuturkan kepada Sulteng Times.

Bicara air bersih kami sebagai warga masyarakat yang tinggal di Bulagi, Bulagi Utara. Bulagi Selatan, sangat kecewa terhadap pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat.

Sudah berpuluh tahun kami masyarakat Bulagi bersaudara tidak pernah diperhatikan dan disentuh dengan air bersih.

Padahal air merupakan kebutuhan vital bagi manusia.

Akibat minimnya perhatian pemerintah, akhirnya. Hingga hari ini untuk masak dan minum terpaksa kami hanya berharap dari tampungan air hujan.

Parahnya. Jika datang kemarau panjang terpaksa masyarakat Bulagi yang penghasilannya masih terbatas harus menambah beban baru untuk membeli air tangki senilai Rp.150 ribu/ tangki.Atau membeli air galon Rp.8 / galon ungkap Rauf Basonggo.

Disinggung untuk kebutuhan mandi dan cuci?

Menurut Rauf Basonggo. Sebagian warga ada yang memiliki sumur tetapi airnya “slobar” yakni, air tanah yang terasa asin.

Masih menurut Rauf. Sepengetahuan nya dari tiga kecamatan yang ada di Bulagi ada desa tertentu yang punya sumber air sumur yang bisa digunakan untuk masak, minum karena airnya tawar seperti yang ada di daerah Sabang, Bulagi.

Tapi sebagian terbesar airnya “slobar” terasa asin.

Apa yang diutarakan Rauf sejalan dengan keterangan yang disampaikan sekretaris kecamatan (sekcam) Bulagi Selatan, Hajar Djihan, S.Sos, kepada Sulteng Times, 21/9/25.

Ia Mengatakan, dari 20 desa dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 jiwa yang ada di Bulagi Selatan, ada 6 desa yang tidak terlayani air bersih diantaranya. Desa Momotan, Pipilogit Paipaisu, Palabatu 1, Mangais, Unu dan Boluni serta 3 Sub desa.

Hajar tidak menampik, kecamatan Bulagi Selatan masih krisis air bersih dan sebagian besar masyarakatnya hanya berharap pada tampungan air hujan salam memenuhi kebutuhan masak dan minum.

Kepala bidang (Kabid) cipta karya Dinas PUPR Kabupaten Bangkep, Aswanto, S.T, M.T, ketika dikonfirmasi Sulteng Times. 21/9/25 menjelaskan.

Upaya untuk membangun jaringan air bersih untuk 3 kecamatan di Bulagi bersaudaranya yang mengalami krisis air bersih sudah sejak lama kami upayakan dan usulkan ke provinsi dan pemerintah pusat.

Paling tidak sejak tahun 2018 sudah kami programkan dan usulkan, tetapi sampai kini belum ada anggaranya.

Jika anggaran tersedia maka problem air bersih di kecamatan Bulagi bersaudara akan bisa tuntas kata Aswanto.

Hal itu Ia yakini karena sumber air bersih yang telah diusulkan ke pusat debit air cukup besar mencapai 512 L / detik.

Hanya saja tambah Aswanto, letak mata air (sumber air) cukup jauh sekitar 70 Km dari dari Bulagi

Sumber air (mata air) itu adalah, Paisulalomo yang letaknya ada di atas danau Alani.

Richard seorang pemuda di Bangkep mengatakan pada Sulteng Times.
Kita sudah 80 tahun merdeka. Kabupaten Bangkep sudah 26 tahun menjadi kabupaten yang mandiri.

Harusnya dengan kemerdekaan dan kemandirian, kesejahteraan sudah tercipta dan keadilan bukan lagi cerita.

“Kita sudah 80 merdeka, Bangkep sudah 26 jadi kabupaten yang mandiri. tetapi sampai kini kebutuhan air bersih masyarakat Bulagi untuk masak dan minum belum terpenuhi. Hingga harus menampung air hujan agar bisa masak dan minum.” Ungkapnya.

Persoalan ini harus skala prioritas bagi pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat untuk diselesaikan tegas Richard

Bupati Bangkep, H Rusli Moidady yang dikonfirmasi Sulteng Times, via WhatsApp terkait permasalahan air bersih di Bulagi, tidak merespon.

Sedangkan Gubernur Sulteng, H Anwar Hafid saat dikonfirmasi Sulteng Times, Minggu 21/9/25 terkait masalah air bersih yang dialami masyarakat Bulagi bersaudara, mengatakan.

Kami sudah dengar dan sudah kami programkan tahun 2026.
“Iyeee siaaap kami sudah programkan 2026 yaa kita kerjakan,” jelas Gubernur Sulteng pada Sulteng Times.*

Setiyo Utomo

Dilarang keras Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Redaksi.
Berita Terkait

Silakan login terlebih dahulu untuk berkomentar.

Login dengan Google
Copyright © 2026 Katabanggai.com